Oleh: dr. Mira Irmawati, SpA.(K)
Dokter Konsultan Tumbuh Kembang Anak
RS Darmo Surabaya

Dokter, anak saya sulit makan….

Keluhan orangtua yang sering mampir ke telinga dokter spesialis anak, dari orangtua yang memiliki putra-putri berusia 1 – 3 tahun. Keluhan ini wajar ditinjau dari sisi orangtua, tidak ada orangtua yang tidak menginginkan anaknya tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Orangtua akan selalu berpikir bagaimana memberikan makanan sumber nutrisi yang terbaik untuk anaknya. Apakah yang dimakan sudah cukup, apakah yang dimakan sudah bervariasi, perlukah diberikan suplementasi vitamin. Mengapa anak saya lebih kecil, mengapa anak saya kurus, mengapa anak saya makannya lebih sedikit dibandingkan anak-anak lainnya, mengapa anak saya selalu pilih-pilih makanan dan yang dimakan hanya itu-itu saja ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan variasi pertanyaan kesulitan makan pada anak dari orangtua, yang intinya sebetulnya ingin anaknya tumbuh dengan baik. Dari sekian banyak keluhan orangtua stersebut, pada praktek sehari-hari di lingkungan dokter spesialis anak, sebenarnya hanya sebagian kecil yang benar-benar mengalami kesulitan sehingga memerlukan penanganan secara medis. Sebagian besar hanya merupakan perbedaan persepsi dari orangtua saja terhadap apa yang disebut-sebut sebagai ‘sulit makan’ pada anaknya.

Istilah yang sering dimunculkan oleh orangtua adalah anak saya picky eater. Apa yang dimaksud dengan picky eater sebenarnya ? Picky eater berarti anak mau mengonsumsi berbagai jenis makanan baik yang sudah maupun yang belum dikenalnya tapi menolak mengonsumsi dalam jumlah yang cukup. Walaupun pilih-pilih makanan, picky eater masih mau mengonsumsi minimal satu macam makanan dari setiap kelompok karbohidrat, protein, sayur/buah dan susu.

Apa saja yang mempengaruhi terjadinya ‘pilih-pilih makan’ atau ‘sulit makan pada anak? Antara lain paparan makanan pada usia dini, tipe kepribadian anak, pengaruh lingkungan, dan tekanan dalam proses makan.

Apakah hal tersebut harus selalu ditindaklanjuti ? apa yang perlu diwaspadai ditingkat rumahtangga untuk mengatasi hal ini ? Biasanya menghadapi orangtua yang mengeluh tentang hal ini, dokter spesialis anak akan menanyakan beberapa pertanyaan berkaitan dengan pola makan sehari-hari, dan yang paling penting yang seharusnya dilakukan oleh orangtua adalah melakukan deteksi dini pertumbuhan anaknya secara teratur menggunakan standar pertumbuhan yang tersedia, bukan membandingkannya dengan anak lainnya. Standar pertumbuhan yang dapat dipakai adalah Kartu Menuju Sehat (KMS) dan Buku KIA, dapat diperoleh di Bidan, Puskesmas, Dokter umum, sampai Dokter spesialis anak yang biasa rutin dikunjungi orangtua. Dalam praktek sehari-hari sebagian besar dokter menemukan anak dalam pertumbuhan yang normal, dengan kata lain keluhan dari orangtua hanya merupakan persepsinya saja. Contoh persepsi yang kurang tepat dari orangtua antara lain: mengukur porsi makanan anak dengan porsi orang dewasa, 2 sendok makan nasi tentu saja sedikit untuk orang dewasa, namun bila yang dibicarakan adalah anaknya yang berusia 1 tahun, tentunya jumlah tersebut tidak sedikit bukan?

Bagaimana menghadapi anak yang suka pilih-pilih makanan ? Contoh persepsi yang kurang tepat lainnya adalah belum dihitung makan apabila belum makan nasi, padahal sumber karbohidrat bukan hanya nasi, tapi bisa berupa mie, bihun, roti, pasta, serealia, atau aneka umbu-umbian. Semuanya tidak dihitung makan oleh orangtua karena seharian tidak makan nasi. Jadi bagaimana cara untuk memastikan dan mengatasi ‘pilih-pilih makan’ atau ‘sulit makan’ pada anak ? Pertama, pastikan status pertumbuhan anak dengan menggunakan kurva pertumbuhan standar secara rutin dan berkala. Apabila menunjukkan pertumbuhan normal, maka tentunya semua kebutuhan nutrisinya mencukupi, jadi tentu saja tidak memerlukan suplementasi vitamin kecuali yang disarankan oleh dokter. Jangan menggunakan ‘perasaan’ atau ‘membandingkan dengan anak lain’ seusianya.

Kedua, beberapa hal dibawah ini dapat digunakan untuk mencegah dan mengatasi ‘pilih-pilih makan’ atau ‘sulit makan’ pada anak :

  1. Children see, children do. Anak usia 1 – 3 tahun akan meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Jika orangtua enggan makan sayur, wajar jika anak pun meniru.
  2. Sajikan makanan dalam porsi kecil. Mini is more. Gunakan wadah makan yang menarik perhatiannya, sendok dan mangkuk beraneka bentuk dan berwarna-warni misalnya.
  3. Paparkan makanan baru tadi pada anak sebanyak 10-15 kali, jangan menyerah bila pada kesempatan pertama, anak menolak makanan yang anda tawarkan.
  4. Buat suasana makan yang menyenangkan, pada saat melakukan kegiatan makan orangtua harus tetap tenang, jangan panik atau marah-marah saat anak menolak makanan tertentu, apalagi sampai memaksakan.
  5. Gunakan cara-cara yang disukai anak misalnya : dicelupkan, dioleskan, menggunakan sedotan. Bunyi ‘sruput’ sedotan menimbulkan sensasi yang membuatnya bersemangat.
  6. Sajikan makanan dengan dihias. Anak pasti tergiur mencicipi ketika melihat makanan yang dihias menarik.
  7. Sediakan waktu untuk makan bersama. Setiap hari, usahakan ada waktu makan bersama beserta seluruh keluarga. Apabila memungkinkan, ajak teman-teman balita Anda untuk menemani makan.
  8. Libatkan anak anda dalam proses memasak (mulai dari belanja, persiapan, hingga penyajian di meja makan). Dia akan lebih berselera mencicipi hasil karyanya sendiri. Tentu saja ini hanya bisa dilakukan pada anak usia 2 – 3 tahun.
  9. Ubah menu. Misalnya, nasi goreng yang semula untuk sarapan, ditukar untuk menu makan malam. Lalu, pizza untuk sarapan, dan pudding serta jus buah untuk makan siang. Yang penting, kebutuhan kalorinya terpenuhi.

Hal-hal tersebut diatas memang tampaknya memerlukan waktu yang lebih lama dan mungkin tidak mudah bagi orangtua yang saat ini memang belum terbiasa melakukannya. Namun sebagai orangtua, tentunya kita semua menginginkan anak kita tumbuh dengan optimal bukan? Jangan menyerah, bila orangtua lain dapat melakukannya, Andapun pasti bisa. Sehingga pada saat bertemu dengan dokter pada kunjungan berikutnya, anda bisa dengan tersenyum melaporkan, anak saya tidak sulit makan lagi, Dokter……